Remaja Dengan Kacamata Kudanya
Remaja zaman sekarang itu dipakaikan
kacamata kuda oleh orangtuanya. Ia diprogram melihat lurus kedepan, tanpa
memperhatikan dunia belakang, kanan, dan kirinya.
Yogyakarta dikenal dengan sebutan
“kota pelajar”. Seluruh pelajar dari Sabang sampai Merauke dapat kita jumpai
kota pelajar ini. Berbagai budaya baik maupun yang buruk masuk di kota dengan sebutan
“kota pelajar“ ini. Namun sayangnya, kita sebagai masyarakat kota Yogyakarta
tidak dapat menyaring dengan baik apa yang masuk kedalam budaya kita. Apakah
kalian merasakan dampak yang mulai terasa di kota pelajar ini?
banyak yang berkata bahwa yogyakarta
itu seperti surga, disini kita dapat
menemukan berbagai tempat wisata yang indah nan asri. Contohnya saja beberapa pantai
selatan, gua pindul yang ada di Gunung Kidul, gunung api Purba yang ada di
Nglanggeran, taman nasional gunung merapi yang ada di Sleman. Bahkan biaya
hidup di Yogyakarta ini relative sangat murah, banyak di hidangkan nasi kucing
yang hanya berkisar antara Rp.1000-Rp.2000 saja, Itu sangat murah bukan ?
berbeda sekali dengan ibukota kita, nasi kucing saja bisa mencapai Rp.10.000.
Karena kenikmatan ini, banyak para
masyarakat, turis domestic maupun mancanegara yang tertarik dengan kota pelajar
ini. Dengan alasan seribu keindahannya. Namun, sadarkah kalian terhadap sisi
Yogyakarta yang sebenarnya? Apakah Yogya berhati nyaman seperti iconnya?
Kacamata kuda saya telah sedikit
terbuka karena hadirnya Mas Andri dan Mbak Ayu dari LSM SAPA. LSM SAPA itu
adalah lembaga yang menangani perempuan dan anak. Pandangan saya terhadap Yogyakarta
yang berhati nyaman telah hancur. Sangat jauh dengan saya mengerti saat ini. Pada
kesempatan itu mereka menceritakan tentang kegiatannya di LSM SAPA tersebut. Pada
tahun 2013 ini, telah ada 120 kasus yang ditangani, 8 laki-laki, 112 perempuan,
dan 64 kasus diantaranya adalah kasus remaja dan anak-anak.
Mbak Ayu menceritakan kepada kami,
ada seorang remaja perempuan berumur 17 tahun asal Bantul, ia sedang hamil 2
bulan, hal itu terjadi setelah ia melakukan hubungan intim 9-10 kali dalam
masanya ia berpacaran. Ia melakukannnya dengan alasan terlanjur sayang. Ia selalu
tidak bisa menolak permintaan pacarnya. Belum lama ini ia melakukan aborsi
namun ia tak paham apabila ia telah melakukan aborsi, ia menelan sebuah pil
pemberian temannya, tanpa paham itu pil apa, dan setelah ia menelan pil
tersebut, kandungannya langsung luruh, lalu ia bercerita kepada LSM SAPA dan
diberikan solusi.
Banyak anggapan yang beredar bahwa wanita
selalu menjadi korban pemerkosaan, namun pada kenyataannya ada kasus yang
ditangani oleh LSM SAPA , ada remaja perempuan 14 tahun yang melaporkan
kasusnya pada pengadilan dengan alasan ia diperkosa oleh pacarnya. Ia selalu
dipaksa melakukan hal tersebut. Namun setelah diobservasi oleh tim SAPA,
ternyata bukan pacarnya yang memperkosa dirinya, walaupun anggapan masyarakat
bahwa ia adalah korban. Ia berhasil meyakinkan orangtua, masyarakat, bahkan tim
pengadilan bahwa ia adalah korban, namun ia tak bisa menipu tim SAPA walaupun
rencananya ternilai sangat rapi.
Menurut saya,
karena fenomena tersebut anggapan wanita itu selalu jadi korban itu harus
dihilangkan, pemikiran ini ada karena adanya budaya timur yaitu budaya patriarkhi.
Patriarkhi itu adalah berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa
tunggal, sentral dari segala-galanya.
Budaya
Patriarki adalah budaya yang dibangun di atas dasar struktur dominasi dan sub ordinasi
yang mengharuskan suatu hirarki di mana laki-laki dan pandangan laki-laki menjadi suatu norma. Dan seorang
wanita itu dipandang hanya ada untuk melayani kebutuhan lelakinya dan
keluarganya. Bisa disebut ini sebagai diskriminasi seorang wanita, karena
wanita disini tak diberi hak-haknya sebagai seorang wanita.
Kejadian seperti kenakalan remaja seperti ini biasanya
disebabkan oleh kurang adanya kasih sayang dari orangtua, kurang adanya
pengertian akan kondisi lingkungannya sehingga ia dapat masuk ke dalam lubang
hitam tersebut. Faktor karena teman dan lingkungannya juga dapat berperan
disini, karena sebagian besar waktu seorang remaja dihabiskannya diluar rumah.
Pendidikan seks itu penting diajarkan sejak dini. Namun,
cara mengajarkannya yang harus diperhatikan. Penjelasannya juga harus jelas dan
tepat, sehingga anak tidak menyalah artikan tentang pendidikan seks.
Diakhir diskusi kami mas Andri memberi pesan kepada kita
untuk selalu menjaga diri, jangan pernah ada fikiran untuk terjerumus
kedalamnya, jadilah remaja tangguh yang bersih dan peka terhadap lingkungan dan
jangan lupa untuk melepas kacamata kuda kalian. Sekian dari saya semoga
bermanfaat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar