Selasa, 03 September 2013

Bullying
Kenakalan remaja sudah terjadi dari zaman dahulu. Namun, akhir-akhir ini kondisinya sangat memperihatinkan. Kenakalan remaja itu seperti lubang hitam, sambung menyambung terus dari waktu ke waktu, masa ke masa hingga zaman ke zaman. Bisa dikatakan kenakalan remaja tak  ada ujungnya. Seiring perkembangan zaman, masalah yang dihadapi pun semakin kompleks. Sejalan dengan arus modernisasi dan teknologi yang semakin berkembang, maka arus hubungan antar kota-kota besar dan daerah semkain lancar, cepat dan mudah.
Dunia teknologi yang semakin canggih, disamping memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi di berbagai media, disisi lain juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas diberbagai lapisan masyarakat.
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Kenakalan remaja saat ini menyababkan konflik berkepanjangan. Umumnya konflik ini bermula pada masa lalu atau masa kanak-kanak pelaku yang biasanya perlakuan kasar atau tidak menyenangkan dari lingkungannya yang hingga didapati masih ada rasa trauma. Secara psikologis,Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di daerah itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya. Karena kondisi tersebut, dapat menimbulkan masalah remaja yang tak bisa di toleransi.
Salah satunya adalah bullying. Akhir-akhir ini satu kata cukup sering saya dengar di berbagai media terutama media elektronik khususnya media online yaitu bullying. Dalam masyarakat Indonesia, bullying dapat dipadupadankan dengan pengertian penindasan, intimidasi ataupun pemalakan. Tetapi biasanya bullying lebih dipraktikkan sebagai upaya teror atau menghina, mencaci dengan upaya intimidasi dengan penekanan tertentu. Bullying merupakan tindakan yang dilakukan dengan kesadaran penuh. Sehingga bagi saya bullying bisa dikatakan sebagai kejahatan verbal maupun fisik yang seharusnya perlu dihindari oleh semua orang.
 Menurut Rigby (2005; dalam Anesty, 2009) merumuskan bahwa “bullying” merupakan sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau sekelompok orang yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang dan dilakukan dengan perasaan senang Craig dan

Pepler (1998), mengartikan bullying sebagai “tindakan negatif secara fisik atau lisan yang menunjukkan sikap permusuhan, sehingga menimbulkan distress bagi korbannya, berulang dalam kurun waktu tertentu dan melibatkan perbedaan kekuatan antara pelaku dan korbannya.”
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan serangan berulang secara fisik, psikologis, sosial, ataupun verbal, yang dilakukan dalam posisi kekuatan yang secara situasional didefinisikan untuk keuntungan atau kepuasan mereka sendiri. Bullying merupakan bentuk awal dari perilaku agresif yaitu tingkah laku yang kasar. Bisa secara fisik, psikis, melalui kata-kata, ataupun kombinasi dari ketiganya. Hal itu bisa dilakukan oleh kelompok atau individu. Pelaku mengambil keuntungan dari orang lain yang dilihatnya mudah diserang. Tindakannya bisa dengan mengejek nama, korban diganggu atau diasingkan dan dapat merugikan korban.
Contoh konkretnya terjadi pada seorang pelajar, sebut saja Paijo. Paijo adalah seorang murid sekolah menengah atas di Yogyakarta. Setiap hari ia bermain dengan teman perempuannya. Namun akhir-akhir ini ia sering di cemooh oleh teman lelakinya. Ia dicemooh dengan kata-kata menyindir, menyebutnya banci, tak punya nyali, dan sebagainya. Setelah kejadian tersebut ia sering merasa minder, dan ia merasa berbeda. Lama kelamaan ia terbujuk oleh teman laki-lakinya untuk bermain dengannya. Hingga akhirnya di kelompok tersebut ia diajarkan hal-hal yang tidak baik. Mulai dari merokok, meminum minuman keras hingga menggunakan narkoba. Awalnya Paijo tidak mau menerima permintaan temannya. Karena bujukan yang memaksa dan mengancam, akhirnya Paijo menerima budaya teman-temannya. Teman-teman perempuan Paijo merasa janggal. Ia bertanya kepada ibunya Paijo tentang apa yang terjadi. Ternyata ibunya Paijo merasakan hal yang sama dengan teman-teman perempuan Paijo. Ibunya Paijo berkata bahwa akhir-akhir ini Paijo sering pulang malam dan sering membantah nasihat orangtuanya. Dari keterangan ibunya Paijo tersebut teman-teman Paijo semakin merasa yakin bahwa Paijo telah mengikuti budaya teman-teman lelakinya. Setelah beberapa bulan Paijo bergaul dengan teman lelakinya dengan kebiasaan yang tak baik itu, akhirnya Paijo meninggal.
            Semoga kita dapat mengambil sepucuk hikmah dari kisah Paijo tersebut. Tetaplah menjadi diri sendiri, jangan pernah mau untuk mencoba masuk ke lubang hitam, dan katakana tidak untuk narkoba dan bullying.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar