Bullying
Kenakalan remaja sudah terjadi
dari zaman dahulu. Namun, akhir-akhir
ini kondisinya sangat memperihatinkan. Kenakalan remaja itu seperti lubang
hitam, sambung menyambung terus dari waktu ke waktu, masa ke masa hingga zaman ke zaman. Bisa dikatakan kenakalan remaja tak ada ujungnya. Seiring perkembangan zaman, masalah yang dihadapi pun semakin
kompleks. Sejalan dengan arus modernisasi dan teknologi yang semakin
berkembang, maka arus hubungan antar kota-kota besar dan daerah semkain lancar,
cepat dan mudah.
Dunia teknologi yang semakin
canggih, disamping memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi di berbagai
media, disisi lain juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas
diberbagai lapisan masyarakat.
Kenakalan remaja biasanya
dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses
perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya.
Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan
perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Kenakalan remaja saat
ini menyababkan konflik berkepanjangan. Umumnya konflik ini bermula pada masa
lalu atau masa kanak-kanak pelaku yang biasanya perlakuan kasar atau tidak
menyenangkan dari lingkungannya yang hingga didapati masih ada rasa trauma. Secara
psikologis,Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu
bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di
mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan
terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di daerah itu, anak pejabat
pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang
lainnya. Karena kondisi tersebut, dapat menimbulkan masalah remaja yang tak bisa
di toleransi.
Salah satunya
adalah bullying. Akhir-akhir ini satu kata cukup sering saya dengar di
berbagai media terutama media elektronik khususnya media online yaitu bullying. Dalam masyarakat Indonesia, bullying dapat dipadupadankan dengan
pengertian penindasan, intimidasi ataupun pemalakan. Tetapi biasanya bullying lebih dipraktikkan sebagai upaya teror
atau menghina, mencaci dengan upaya intimidasi dengan penekanan tertentu. Bullying merupakan tindakan yang dilakukan
dengan kesadaran penuh. Sehingga bagi saya bullying bisa
dikatakan sebagai kejahatan verbal maupun fisik yang seharusnya perlu dihindari
oleh semua orang.
Menurut Rigby (2005; dalam Anesty, 2009)
merumuskan bahwa “bullying” merupakan sebuah hasrat untuk menyakiti.
Hasrat ini diperlihatkan dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini
dilakukan secara langsung oleh seseorang atau sekelompok orang yang lebih kuat,
tidak bertanggung jawab, biasanya berulang dan dilakukan dengan perasaan senang
Craig dan
Pepler (1998), mengartikan bullying sebagai “tindakan negatif secara fisik
atau lisan yang menunjukkan sikap permusuhan, sehingga menimbulkan distress
bagi korbannya, berulang dalam kurun waktu tertentu dan melibatkan perbedaan
kekuatan antara pelaku dan korbannya.”
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan serangan berulang secara
fisik, psikologis, sosial, ataupun verbal, yang dilakukan dalam posisi kekuatan
yang secara situasional didefinisikan untuk keuntungan atau kepuasan mereka
sendiri. Bullying merupakan bentuk
awal dari perilaku agresif yaitu tingkah laku yang kasar. Bisa secara fisik,
psikis, melalui kata-kata, ataupun kombinasi dari ketiganya. Hal itu bisa
dilakukan oleh kelompok atau individu. Pelaku mengambil keuntungan dari orang
lain yang dilihatnya mudah diserang. Tindakannya bisa dengan mengejek nama,
korban diganggu atau diasingkan dan dapat merugikan korban.
Contoh konkretnya terjadi pada seorang pelajar, sebut
saja Paijo. Paijo adalah seorang murid sekolah menengah atas di Yogyakarta. Setiap
hari ia bermain dengan teman perempuannya. Namun akhir-akhir ini ia sering di
cemooh oleh teman lelakinya. Ia dicemooh dengan kata-kata menyindir,
menyebutnya banci, tak punya nyali, dan sebagainya. Setelah kejadian tersebut
ia sering merasa minder, dan ia merasa berbeda. Lama kelamaan ia terbujuk oleh
teman laki-lakinya untuk bermain dengannya. Hingga akhirnya di kelompok
tersebut ia diajarkan hal-hal yang tidak baik. Mulai dari merokok, meminum
minuman keras hingga menggunakan narkoba. Awalnya Paijo tidak mau menerima permintaan temannya. Karena bujukan yang
memaksa dan mengancam, akhirnya Paijo
menerima budaya teman-temannya. Teman-teman perempuan Paijo merasa janggal. Ia bertanya kepada ibunya Paijo tentang apa yang terjadi. Ternyata
ibunya Paijo merasakan hal yang sama
dengan teman-teman perempuan Paijo. Ibunya
Paijo berkata bahwa akhir-akhir ini Paijo sering pulang malam dan sering
membantah nasihat orangtuanya. Dari keterangan ibunya Paijo tersebut teman-teman Paijo
semakin merasa yakin bahwa Paijo
telah mengikuti budaya teman-teman lelakinya. Setelah beberapa bulan Paijo bergaul dengan teman lelakinya
dengan kebiasaan yang tak baik itu, akhirnya Paijo meninggal.
Semoga kita
dapat mengambil sepucuk hikmah dari kisah Paijo
tersebut. Tetaplah menjadi diri sendiri, jangan pernah mau untuk mencoba masuk
ke lubang hitam, dan katakana tidak untuk narkoba dan bullying.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar