Rabu, 04 September 2013


Melebur Beda

            “Jadi perlindungan tidak lagi sifatnya hanya memberikan sumbangan tapi lebih kepada kesetaraan hak, mereka sama seperti orang normal” Salim Segaf Al Jufri (menteri sosial).  Ketidaksempurnaan bukanlah alasan untuk berdiam diri atau meratapi keadaan. Yang diperlukan adalah niat dan keyakinan yang ada pada diri kita.

            Dalam goresan saya kali ini, saya akan membahas tentang Difabel. Difabel adalah perbedaan keadaan fisik atau sistem biologisnya berbeda dengan orang lain pada umumnya. Difabel disebabkan oleh beberapa hal, ada sebagian orang yang menjadi difabel sejak lahir namun ada juga yang menjadi difabel karena mengalami suatu peristiwa. Jenis difabillitas juga bermacam-macam. Diantaranya tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, epilepsi, tunaganda, penderita HIV/AIDS, Gifted (Potensi kecerdasan istimewa IQ >125), dll.
Tuhan memberikan cobaan kepada hamba-Nya itu berbeda-beda. Sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Karena Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuannya. Ujian berupa kekurangan pada anggota tubuh, tidak harus menghentikan langkah kita untuk tetap berkarya. Banyak yang telah membuktikan bahwa di balik kekurangan, masih bisa berkarya dan membuat gebrakan. Salah satunya adalah Emil.
Emil tetap gigih berusaha meski menderita cacat pada kedua kakinya. Kecelakaan lalu lintas pada 2007, sempat membuat Emil patang arang. Pemuda berusia 25 tahun ini merasa tak kuat untuk bertahan hidup. Kejadian itu bermula saat minibus yang ditumpangi Emil menujameraih cita-citanya.
            “Kalau hanya duduk di rumah, sampai kapan saya harus tetap seperti itu. Sementara roda kehidupan terus berjalan, orangtua saya juga memiliki aktivitas lain menjalani kehidupannya,” terang Emil yang memiliki nama lengkap Hamilul Haq. Ia punya tekad, ingin mengubah nasib sendiri tanpa mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak ingin seperti kebanyakan orang-orang memanfaatkan kekurangannya untuk meminta belas kasihan orang lain di jalan dan perempatan lampu merah.
“Saya harus bertanggung jawab dengan semua yang telah saya perbuat. Untuk itu, saya harus bangkit dari keterpurukan. Selama ini saya hanya duduk dan dibantu orang­tua untuk melakukan segala aktivitas sehari-hari,”
Saat saya membaca kutipan kata dari Emil ini, jujur saya sangat terkesan, didalam keterbatasannya ia tetap berusaha bangkit bertanggung jawab. Walaupun ia harus memulai semuanya dari nol. Ia terinspirasi dari buku Chairul Tanjung: si Anak Singkong yang memiliki karyawan ribuan orang. Dan apabila ia dapat membuka lapangan kerja yang luas artinya ia dapat menampung pekerja yang banyak pula.
Sebelumnya ia berjualan pernak-pernik melalui internet. Agar ia tidak perlu ke luar rumah untuk mengantarkan dagangan. Bagi yang berminat dengan dagangan yang di pajang di in­ternet, mereka tinggal datang langsung ke rumah. Bisnis itu masih dijalaninya hingga sekarang. Setelah mendapatkan tambahan modal yang cukup dari bisnis tersebut, pria yang menamatkan sekolah hingga SMP ini kemudian menambah usaha barunya, dagangan musiman. Ia berjualan pistol mainan anak-anak ketika Idul Fitri dan liburan sekolah, serta menjual terompet serta akse­soris di masa pergantian tahun. “Keuntungan yang saya dapatkan dikumpul untuk membuka usaha baru,” jelas­nya.
Dan ia yakin suatu saat nanti ia dapat bekerja lebih layak lagi dan terus mengembangkan inovasinya sehingga bisa menggertak selera konsumsi masyarakat dengan produknya.
Kisah Emil memberi motivasi dan keyakinan pada kita bahwa walaupun memiliki kekurangan, seseorang masih bisa berkarya dan berguna bagi yang lainnya. Tidak mudah menyerah dan memiliki keteguhan  adalah modal untuk setiap orang meniti mimpi yang dicita-citakan untuk diwujudkan. Jangan jadikan kekurangan sebagai halangan, tapi jadikan semangat bahwa kita bisa sama seperti yang mendekati sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar