Melebur
Beda
“Jadi perlindungan tidak lagi sifatnya hanya memberikan sumbangan tapi lebih kepada kesetaraan hak, mereka sama seperti orang normal” Salim Segaf Al Jufri (menteri sosial). Ketidaksempurnaan bukanlah alasan untuk berdiam diri atau meratapi keadaan. Yang diperlukan adalah niat dan keyakinan yang ada pada diri kita.
Dalam goresan
saya kali ini, saya akan membahas tentang Difabel.
Difabel adalah perbedaan keadaan fisik atau sistem biologisnya
berbeda dengan orang lain pada umumnya. Difabel disebabkan oleh beberapa hal, ada
sebagian orang yang menjadi difabel sejak lahir namun ada juga yang menjadi
difabel karena mengalami suatu peristiwa. Jenis difabillitas juga
bermacam-macam. Diantaranya tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa,
tunalaras, epilepsi, tunaganda, penderita HIV/AIDS,
Gifted (Potensi kecerdasan istimewa IQ >125), dll.
Tuhan
memberikan cobaan kepada hamba-Nya itu berbeda-beda. Sesuai dengan kemampuan
hamba-Nya. Karena Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuannya. Ujian berupa kekurangan pada anggota
tubuh, tidak harus menghentikan langkah kita untuk tetap berkarya. Banyak yang
telah membuktikan bahwa di balik kekurangan, masih bisa berkarya dan membuat gebrakan.
Salah satunya adalah Emil.
Emil tetap gigih
berusaha meski menderita cacat pada kedua kakinya. Kecelakaan lalu lintas pada
2007, sempat membuat Emil patang arang. Pemuda berusia 25 tahun ini merasa tak
kuat untuk bertahan hidup. Kejadian itu bermula saat minibus yang ditumpangi
Emil menujameraih cita-citanya.
“Kalau
hanya duduk di rumah, sampai kapan saya harus tetap seperti itu. Sementara roda
kehidupan terus berjalan, orangtua saya juga memiliki aktivitas lain menjalani
kehidupannya,” terang Emil yang memiliki nama lengkap Hamilul Haq. Ia punya
tekad, ingin mengubah nasib sendiri tanpa mengharapkan belas kasihan orang
lain. Ia tidak ingin seperti kebanyakan orang-orang memanfaatkan kekurangannya
untuk meminta belas kasihan orang lain di jalan dan perempatan lampu merah.
“Saya
harus bertanggung jawab dengan semua yang telah saya perbuat. Untuk itu, saya
harus bangkit dari keterpurukan. Selama ini saya hanya duduk dan dibantu orangtua
untuk melakukan segala aktivitas sehari-hari,”
Saat
saya membaca kutipan kata dari Emil ini, jujur saya sangat terkesan, didalam
keterbatasannya ia tetap berusaha bangkit bertanggung jawab. Walaupun ia harus
memulai semuanya dari nol. Ia terinspirasi dari buku Chairul Tanjung: si Anak
Singkong yang memiliki karyawan ribuan orang. Dan apabila ia dapat
membuka lapangan kerja yang luas artinya ia dapat menampung pekerja yang banyak
pula.
Sebelumnya
ia berjualan pernak-pernik melalui internet. Agar ia tidak perlu ke luar rumah untuk
mengantarkan dagangan. Bagi yang berminat dengan dagangan yang di pajang di internet,
mereka tinggal datang langsung ke rumah. Bisnis itu masih dijalaninya hingga
sekarang. Setelah mendapatkan tambahan modal yang cukup dari bisnis tersebut,
pria yang menamatkan sekolah hingga SMP ini kemudian menambah usaha barunya,
dagangan musiman. Ia berjualan pistol mainan anak-anak ketika Idul Fitri dan
liburan sekolah, serta menjual terompet serta aksesoris di masa pergantian
tahun. “Keuntungan yang saya dapatkan dikumpul untuk membuka usaha baru,” jelasnya.
Dan
ia yakin suatu saat nanti ia dapat bekerja lebih layak lagi dan terus
mengembangkan inovasinya sehingga bisa menggertak selera konsumsi masyarakat
dengan produknya.
Kisah Emil memberi motivasi dan
keyakinan pada kita bahwa walaupun memiliki kekurangan, seseorang masih bisa
berkarya dan berguna bagi yang lainnya. Tidak mudah menyerah dan memiliki
keteguhan adalah modal untuk setiap
orang meniti mimpi yang dicita-citakan untuk diwujudkan. Jangan jadikan
kekurangan sebagai halangan, tapi jadikan semangat bahwa kita bisa sama seperti
yang mendekati sempurna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar