Ketika Rumah Bukan Lagi Tempat Untuk
Berlindung
Suatu
pagi ketika sang fajar mulai menitikkan sinarnya untuk para manusia dibawahnya,
saat sang burung kecil berterbangan menyambut para manusia fajar yang mulai
beraktifitas. Saat itu pula aku mulai berangkat ke rumah keduaku, sekolah.
Sejatinya tujuan kedatanganku kerumah
kedua ini untuk menuntut ilmu, namun entah terkadang semua itu hanya omong
kosong. Dalam hati ingin membahagiakan orangtua, namun apa daya lingkungan tak
sampai. Berkali-kali aku ingin memfokuskan diri pada suatu papan putih tepat
dimana bangkuku berada, lengkap dengan seseorang yang berdiri menjelaskan apa
yang ia tulis. Mata ini memang terfokus pada huruf-huruf yang berjalan
didepanku, namun pikiranku melayang entah kemana. Itu yang sering kualami
hingga tak jarang seorang pahlawan tanpa tanda jasa itu menegurku.
Detik demi detik berlalu,
detang bel istirahat ialah bunyi suara surga bagiku. Terlihat bodoh memang, itu
yang selalu ku tunggu. Usai bel itu berbunyi, bergegaslah aku menenangkan diri
dengan suatu kabel yang aku tancapkan ke kedua lubang telingaku, lalu ku putar
lagu penenang kesukaanku. Hingga lagu itu membawaku ke suatu alam yang sangat
tenang, dan damai. Ini ialah surga diwaktu sekolah. Aku biasa melakukan ini,
apabila aku bosan aku biasa berjalan menuju tempat dimana banyak anak-anak yang
kelaparan mengisi rongga perut mereka, melepaskan dahaga usai sekian jam mereka
bertemu monster.
Kata yang tepat untuk
seseorang yang selalu berdiri menjelaskan huruf-huruf berjalan sejatinya
bukanlah monster. Namun terkadang aku merasa mereka adalah monster. Bagi mereka
yang telah merasakan bagaimana sensasi menjadi siswa pasti tau apa maksudku.
Setelah ku fikir-fikir,
tak selalu suara bel ialah suara seruan dari surga, bahkan terkadang aku
membenci suara tersebut diakhir kegiatan belajar-mengajar. Terkadang itu adalah
suara seruan neraka. Mungkin hanya sebagian dari siswa yang membenci bel pulang
sekolah. Tak sedikit yang mengakuinya sebagai suara panggilan surga.
Mengapa aku sangat
membencinya? Yah, aku membenci suara itu karena itu ialah suatu pertanda aku
harus segera bergegas pulang kesuatu neraka. Durhaka memang bila aku mengatakan
surga itu neraka. Tempat dimana aku melepaskan lelah usai sekolah, tempat
dimana aku akan bertemu dengan 3 malaikat hatiku; ayah, ibu dan kakak lelakiku.
Terkadang memang tempat dimana aku bertemu 3 malaikat itu ialah nerakaku.
Akhir-akhir ini aku mulai
lelah dengan apa yang ada dirumah. Semua terlihat seperti monster raksasa yang
siap menerkam apapun yang ada didepannya. Saat aku melangkahkan kaki di teras
rumah, panas api kata-kata kotor itu mulai terasa, ingin rasanya untuk berbalik
arah untuk meninggalkan tempat itu, namun ada sepercik suara hati yang
mendorongku untuk masuk kedalam gubuk kecil itu, suara rintihan sedih ayah dan
ibu setiap menunggu malaikat kecilnya kembali kerumah.
Setiap aku masuk kedalam
gubuk kecil itu aku hanya berharap, “semoga aku tak masuk ke ruangan dari pintu
yang salah, semoga aku bertemu dengan butiran salju yang menentramkan, bukan
bongkahan api yang panas.”
Untuk kali ini, Tuhan tak
mengabulkan rintihan suara hatiku, ia lebih memilih aku masuk untuk siap
menghadang bongkahan api yang panas. Garis bibir seorang malaikat mulai
terlihat tak enak, bila ku mulai memperhatikan keatas, sorot mata tajam mulai
menghiasi kulitnya yang mulai keriput. Melihatnya aku hanya bisa menundukkan
kepala terdiam. Tak lama kemuadian, ia menyambar, “Dari mana saja kamu, jam
segini baru pulang, lihat itu jam berapa! pakaian menumpuk, kamar kotor, buku dimana-mana, nggak
mau nyuci, nyapu, ngepel, semua kotor!”. Mendengar itu aku hanya bisa terdiam
memejamkan mata, menghela napas seraya mengeluarkan antibody agar aku tak sakit
hati. “Cuma diam saja, nggak bisa jawab kamu?! Masih punya mulut?’’suaranya
menangkis keheninganku. Bukannya aku tak mau menjawab, aku hanya takut berkata jikalau nanti kata-kataku hanya akan menyakiti
ayah. Aku hanya ingin menjaga perasaanmu yah. Sejatinya aku bisa saja menangkis
segala ocehan yang kau berikan, aku bisa nyuci sendiri, aku bisa kok ngurus
segala keperluanku, namun ayah sendiri kan yang memaksa diri untuk
melakukannya?
“Sudah sana masuk,
bisanya Cuma bikin repot, diam saja!”ucap ayah dengan nada tinggi. Aku merasa
bodoh, terkadang aku berfikir mengapa ayah selalu memarahi ku atas apa yang aku
kerjakan. Aku sudah nyuci baju sendiri salah, dibilang pemborosan air, saat aku
membereskan kamarku, aku dibilang egois, saat aku mencuci semua baju anggota
rumah dan membereskan seluruh rumah masih saja dikomentari, disalahkan, masalah
kecil selalu dibesar-besarkan, dan ia tak mau apabila ia dikritik ataupun
diberi saran. “Aku tu dah tau, nggak perlu diajarin, kamu itu nggak sopan
menjudge orangtua”,kata itu yang selalu terlontar saat aku sedikit menyuarakan
isi hati dan fikiranku. Whatever!
Aku nggak tau harus gimana,
berkali-kali suara itu menggelayuti pikiranku, selalu menggangguku. Terkadang
aku tak tahan untuk menitihkan air mata ini, yah apa daya aku hanyalah manusia
lemah yang selalu salah dan diberi nasihat perih oleh kedua orangtua.
Masa remaja ialah suatu
masa yang terjal dan sulit, segalanya itu salah, segalanya itu hanya orang yang
lebih tua yang benar, hanya mereka yang bisa berpendapat, hanya mereka yang
bisa menjudge semuanya. Remaja hanya bisa terdiam mendengar dan melakukan apa
yang mereka putuskan. Remaja hanyalah sebuah boneka Kayu.
