Minggu, 25 Mei 2014


selalu kangen balik ke rumah ini, the house of nuraga...
tempat bernaung duo kece The Finest Tree yang dikemas sama on Eross Candra, Cakka Kawekas Nuraga(vokal) dan Elang Nuraga (vokal&gitaris).
ini pendapat para forester tentang The finest tree, Cakka & Elang di

  • yang selalu open buat para Forester (sebutan fans dari The Finest Tree)
  • artis yang nggak ngartis
  • no jaim
  • low profile
  • mereka lebih mentingin mreka nggak sombong dan sering nyapa forester "KUALITAS" daripada "POPULARITAS"
  • nggak kalah sama band yang punya Label :B
  • mereka tidak menyukai proses yg "instant" dalam berkarya
  • ada yang bikin aku gigit jari -,- :B
  • Bikin ngangenin forester! :D
  • they're real musician
  • keren, bertalenta, beda, kreatif plus dapet bonus ganteng nya :) keren, bertalenta, beda, kreatif plus dapet bonus ganteng nya :)
  • Mereka slalu bisa membuat semua forester bahagia dengan hasil karya2nya ;) 
  • bukan cuma si duo yg keren, tapi semua crew+admin+AYAHnya juga keren abiiis  
 aduuh banyak banget deh komentar ataupun opini dari Forester tentang mereka, mereka memang supacool :B go follow  them on twitter @TheFinestTree @CakkaNRG @ElangNuraga. ayahnya juga kece loh, namanya om Tunggul Dhewa Nuraga, twitternya @gubrack. ini kumpulan foto yang saat kami ke the house of nuraga, 2014.
 aku( ani sarah laili ) sama Cakka Nuraga

 sama "Kesatria Bergitar" Elang Nuraga

 ini siwi  sama mas Elang Nuraga

 si baju pink malu" ngga mau dirangkul sama Cakka =))

 manisnyaaaa...

 siwi sama cakka so sweet, haha

 kita Forester Jogja, Magelang, Solo ({})

 Forester yang hobi selfie, mumpung lg di rumah idola

 entah ini kak Ge ngapain :B

 nggak tahaan !

 nahloh

 FO RES TER !

 ngintipin "museum" gitarnya The Finest Tree

 suka banget sama moment iniii

selfie terus sampe tua =)) sama Siwi & mas Elang

Selasa, 11 Maret 2014

Ketika Rumah Bukan Lagi Tempat Untuk Berlindung
            Suatu pagi ketika sang fajar mulai menitikkan sinarnya untuk para manusia dibawahnya, saat sang burung kecil berterbangan menyambut para manusia fajar yang mulai beraktifitas. Saat itu pula aku mulai berangkat ke rumah keduaku, sekolah.
Sejatinya tujuan kedatanganku kerumah kedua ini untuk menuntut ilmu, namun entah terkadang semua itu hanya omong kosong. Dalam hati ingin membahagiakan orangtua, namun apa daya lingkungan tak sampai. Berkali-kali aku ingin memfokuskan diri pada suatu papan putih tepat dimana bangkuku berada, lengkap dengan seseorang yang berdiri menjelaskan apa yang ia tulis. Mata ini memang terfokus pada huruf-huruf yang berjalan didepanku, namun pikiranku melayang entah kemana. Itu yang sering kualami hingga tak jarang seorang pahlawan tanpa tanda jasa itu menegurku.
Detik demi detik berlalu, detang bel istirahat ialah bunyi suara surga bagiku. Terlihat bodoh memang, itu yang selalu ku tunggu. Usai bel itu berbunyi, bergegaslah aku menenangkan diri dengan suatu kabel yang aku tancapkan ke kedua lubang telingaku, lalu ku putar lagu penenang kesukaanku. Hingga lagu itu membawaku ke suatu alam yang sangat tenang, dan damai. Ini ialah surga diwaktu sekolah. Aku biasa melakukan ini, apabila aku bosan aku biasa berjalan menuju tempat dimana banyak anak-anak yang kelaparan mengisi rongga perut mereka, melepaskan dahaga usai sekian jam mereka bertemu monster.
Kata yang tepat untuk seseorang yang selalu berdiri menjelaskan huruf-huruf berjalan sejatinya bukanlah monster. Namun terkadang aku merasa mereka adalah monster. Bagi mereka yang telah merasakan bagaimana sensasi menjadi siswa pasti tau apa maksudku.
Setelah ku fikir-fikir, tak selalu suara bel ialah suara seruan dari surga, bahkan terkadang aku membenci suara tersebut diakhir kegiatan belajar-mengajar. Terkadang itu adalah suara seruan neraka. Mungkin hanya sebagian dari siswa yang membenci bel pulang sekolah. Tak sedikit yang mengakuinya sebagai suara panggilan surga.
Mengapa aku sangat membencinya? Yah, aku membenci suara itu karena itu ialah suatu pertanda aku harus segera bergegas pulang kesuatu neraka. Durhaka memang bila aku mengatakan surga itu neraka. Tempat dimana aku melepaskan lelah usai sekolah, tempat dimana aku akan bertemu dengan 3 malaikat hatiku; ayah, ibu dan kakak lelakiku. Terkadang memang tempat dimana aku bertemu 3 malaikat itu ialah nerakaku.
Akhir-akhir ini aku mulai lelah dengan apa yang ada dirumah. Semua terlihat seperti monster raksasa yang siap menerkam apapun yang ada didepannya. Saat aku melangkahkan kaki di teras rumah, panas api kata-kata kotor itu mulai terasa, ingin rasanya untuk berbalik arah untuk meninggalkan tempat itu, namun ada sepercik suara hati yang mendorongku untuk masuk kedalam gubuk kecil itu, suara rintihan sedih ayah dan ibu setiap menunggu malaikat kecilnya kembali kerumah.
Setiap aku masuk kedalam gubuk kecil itu aku hanya berharap, “semoga aku tak masuk ke ruangan dari pintu yang salah, semoga aku bertemu dengan butiran salju yang menentramkan, bukan bongkahan api yang panas.”
Untuk kali ini, Tuhan tak mengabulkan rintihan suara hatiku, ia lebih memilih aku masuk untuk siap menghadang bongkahan api yang panas. Garis bibir seorang malaikat mulai terlihat tak enak, bila ku mulai memperhatikan keatas, sorot mata tajam mulai menghiasi kulitnya yang mulai keriput. Melihatnya aku hanya bisa menundukkan kepala terdiam. Tak lama kemuadian, ia menyambar, “Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang, lihat itu jam berapa! pakaian menumpuk, kamar kotor, buku dimana-mana, nggak mau nyuci, nyapu, ngepel, semua kotor!”. Mendengar itu aku hanya bisa terdiam memejamkan mata, menghela napas seraya mengeluarkan antibody agar aku tak sakit hati. “Cuma diam saja, nggak bisa jawab kamu?! Masih punya mulut?’’suaranya menangkis keheninganku. Bukannya aku tak mau menjawab, aku hanya  takut berkata jikalau nanti kata-kataku hanya akan menyakiti ayah. Aku hanya ingin menjaga perasaanmu yah. Sejatinya aku bisa saja menangkis segala ocehan yang kau berikan, aku bisa nyuci sendiri, aku bisa kok ngurus segala keperluanku, namun ayah sendiri kan yang memaksa diri untuk melakukannya?
“Sudah sana masuk, bisanya Cuma bikin repot, diam saja!”ucap ayah dengan nada tinggi. Aku merasa bodoh, terkadang aku berfikir mengapa ayah selalu memarahi ku atas apa yang aku kerjakan. Aku sudah nyuci baju sendiri salah, dibilang pemborosan air, saat aku membereskan kamarku, aku dibilang egois, saat aku mencuci semua baju anggota rumah dan membereskan seluruh rumah masih saja dikomentari, disalahkan, masalah kecil selalu dibesar-besarkan, dan ia tak mau apabila ia dikritik ataupun diberi saran. “Aku tu dah tau, nggak perlu diajarin, kamu itu nggak sopan menjudge orangtua”,kata itu yang selalu terlontar saat aku sedikit menyuarakan isi hati dan fikiranku. Whatever!



Aku nggak tau harus gimana, berkali-kali suara itu menggelayuti pikiranku, selalu menggangguku. Terkadang aku tak tahan untuk menitihkan air mata ini, yah apa daya aku hanyalah manusia lemah yang selalu salah dan diberi nasihat perih oleh kedua orangtua.
Masa remaja ialah suatu masa yang terjal dan sulit, segalanya itu salah, segalanya itu hanya orang yang lebih tua yang benar, hanya mereka yang bisa berpendapat, hanya mereka yang bisa menjudge semuanya. Remaja hanya bisa terdiam mendengar dan melakukan apa yang mereka putuskan. Remaja hanyalah sebuah boneka Kayu.
Ingin rasanya tulisan ini dibaca oleh seluruh orangtua dimuka bumi yang memiliki anak remaja, terlebih keluarga yang mendidik keluarganya dengan keras dan tegas sepertiku. Bahkan terkadang aku ingin pergi dari neraka ini, karena aku merasa rumah bukan lagi tempat untuk berlindung.
harap-harap cemas, semoga kami tak kehilangan arah..